COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, dengan keluhan yang menyerupai infeksi saluran pernafasan akut seperti demam, batuk, dan sesak nafas. Sejak pertama kali ditemukan di Indonesia, kasus COVID-19 terus mengalami peningkatan yang cukup pesat. Dilansir dari kawalcovid19, dilaporkan bahwa per-16 September 2020 terdapat 225,030 kasus positif COVID-19 dengan total kasus yang dinyatakan sembuh yaitu 161,065 kasus.

Lalu, apa sih kriteria saya “sembuh” dari COVID-19?

Menurut Pedoman Tata Laksana COVID-19 Edisi 2, Agustus 2020, seseorang yang terkonfirmasi COVID-19 (dengan gejala ringan-sedang-berat atau tanpa gejala) dinyatakan “sembuh” apabila telah memenuhi kriteria isolasi dan diberikan surat pernyataan selesai pemantauan yang didasarkan pada penilaian dokter penanggung jawab.

 Namun, pada seseorang yang terkonfirmasi COVID-19 terdapat kemungkinan bahwa hasil pemeriksaan follow-up RT-PCR akan kembali positif di kemudian hari. Sehingga penentuan kasus “sembuh” ditentukan berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh dokter penanggung jawab, dan dapat berubah setiap saat selama masa pandemi masih berlanjut.

Namun, apakah saya benar-benar “sembuh”?

Data dari beberapa studi di seluruh dunia, disebutkan bahwa seseorang yang didiagnosa sembuh COVID-19 ternyata memiliki gejala sisa yang mempengaruhi kualitas hidup mereka. Kondisi ini, umum dikenal sebagai Post-COVID-19 Syndrome.

Apa itu Post-COVID-19 Syndrome?

Post-COVID-19 Syndrome merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya gejala sisa yang muncul pada seseorang yang telah dinyatakan sembuh dari infeksi COVID-19. Kondisi ini terjadi akibat adanya kerusakan organ tubuh akibat virus SARS-CoV-2. Data dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa dampak terbesar dari infeksi COVID-19 terjadi pada organ paru. Hal serupa juga pernah dilaporkan pada infeksi coronavirus sebelumnya yaitu SARS dan MERS, yang diketahui dapat bertahan sampai dengan 7 tahun.

Apa itu New-Illness Related Fatigue?

Pada infeksi COVID-19, virus SARS-CoV-2 yang masuk ke dalam tubuh akan menyebabkan reaksi imunologi dan mengganggu banyak fungsi sel dalam tubuh, khususnya paru. Perubahan bentuk sel pada paru akan menyebabkan fungsi pertukaran oksigen menjadi terganggu. Secara garis besar, perubahan paru setelah selesai terinfeksi COVID-19 akan masuk ke dalam kategori gangguan paru restriktif. Perubahan paru inilah yang akan mempengaruhi proses pernafasan dan membuat seseorang yang telah terinfeksi COVID-19 menjadi lebih mudah lelah. Hal ini umum dikenal dengan istilah new illness related fatigue. Sebuah penelitian di rumah sakit di Eropa, disebutkan bahwa new illness related fatigue dapat terjadi pada pasien dengan rentang usia yang sangat luas, mulai dari usia 20 tahun sampai dengan 84 tahun.

Apa yang harus saya lakukan jika saya mengalami Post-COVID-19 Syndrome?

Rehabilitasi merupakan kumpulan dari upaya medis untuk mengembalikan kondisi tubuh kembali ke keadaan sebelum terkena sebuah penyakit sesuai dengan kemampuan pasien. Salah satu dari upaya tersebut adalah latihan fisik yang bertujuan untuk mempertahankan atau memperbaiki fungsi organ saat ini. Latihan fisik ini sangat direkomendasikan guna mempertahankan atau mengembalikan kualitas hidup seseorang kembali seperti sebelum terinfeksi COVID-19, sambil disesuaikan dengan perubahan struktur anatomi yang telah terjadi akibat infeksi tersebut.

Emergency Services Find Doctor Booking Appointmen

Pin It on Pinterest

Share This