Kanker payudara merupakan pertumbuhan sel-sel abnormal pada jaringan payudara, yang banyak terjadi pada perempuan. Berdasarkan data dari Kemenkes tahun 2019, disebutkan bahwa Indonesia termasuk ke dalam 10 besar negara dengan jumlah angka kejadian kanker payudara terbanyak di Asia Tenggara. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), disebutkan bahwa kanker payudara termasuk ke dalam salah satu penyebab kematian terbanyak pada perempuan akibat kanker, dengan persentase sebesar 15%.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka kejadian dan kematian akibat kanker payudara pada perempuan adalah dengan melakukan skrining dan deteksi dini. Skrining kanker payudara merupakan sebuah pemeriksaan yang dilakukan saat seseorang belum memiliki keluhan klinis. 

Beberapa upaya yang dapat dilakukan berdasarkan rekomendasi WHO adalah:

  1. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

SADARI merupakan pemeriksaan payudara yang dilakukan oleh diri sendiri. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi adanya benjolan di payudara, perubahan ukuran dan bentuk payudara, pengerutan kulit payudara, keluarnya cairan dari putting payudara, serta adanya benjolan di area ketiak.

2. Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS)

Pemeriksaan klinis payudara merupakan pemeriksaan pada payudara yang dilakukan oleh dokter yang kompeten. Pemeriksaan ini direkomendasikan untuk negara dengan keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan fasilitas penunjang. Wanita usia 20-40 tahun direkomendasikan melakukan sadanis 3 tahun sekali, sedangkan usia >40 tahun dilakukan setahun sekali.

3. Mammografi

Mamografi merupakan pemeriksaan spesifik untuk pencitraan payudara berbasis sinar-X energi rendah, yang bertujuan untuk deteksi dini dan skrining kanker payudara. Gambaran yang dapat ditemukan pada pemeriksaan ini yaitu tumor atau benjolan kecil dan gambaran abnormal pada jaringan payudara.

Emergency Services Find Doctor Booking Appointmen

Pin It on Pinterest

Share This